Selasa, 18 Februari 2014

CAHAYA HATI


Dalam kehidupan sehari-hari, saat kita ada pikiran untuk melakukan hal-hal yang menyimpang dari kebaikan, kita akan merasakan satu sisi hati kita akan membisikkan larangan agar tidak melakukan niat pikiran buruk kita tadi, namun sekejap kemudian ada bisikan hati yang lain untuk membujuk agar kita tetap melakukan niat hati yang semula.

Saat niat semula belum terlaksana, seolah-olah ada perseteruan dalam hati, antara yang membujuk agar terlaksana dan yang melarang agar tujuan tidak terlaksana.

NURANI ( Cahaya Hati )....

adalah sebuah sifat ruhaniah yang mengajak manusia agar berpikir dan berperilaku yang baik, dan membantunya berpikir lurus dan mengatakan mana yang benar dan mana yang salah.

Nurani ada dalam diri semua orang. Dengan kata lain, apa yang dirasa benar oleh nurani seseorang juga dirasa benar oleh nurani semua orang lainnya asalkan berlaku kondisi-kondisi yang sama.

Nurani seseorang tidak pernah berbeda dengan nurani orang lain. Alasannya terletak pada sumber nurani itu: dia adalah ilham dari Allah.

Melalui nurani, Allah membiarkan kita tahu mana sikap dan perilaku terbaik dan paling indah yang akan menyenangkan-Nya agar kita ambil.

Bahwasanya nurani adalah ilham dari Allah disebutkan oleh al-Qur’an, di dalam Surat asy-Syams :

“Dan (demi) jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya). Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu. Dan sesungguhnya merugilah orang yang mengo-torinya.” (Q.s. asy-Syams: 7-10).

Dalam ayat-ayat di atas, Allah menyatakan bahwa Dia telah mengilhamkan kepada nafs (diri) dengan fujur (berbuat dosa, tidak taat, menyimpang, berbohong, berpaling dari kebajikan, berbuat kerusakan, keburukan akhlak).

Lawan katanya adalah taqwa (gentar dan takut kepada Allah yang mengilhamkan kepada seseorang untuk waspada terhadap perbuatan yang salah dan bersemangat untuk melakukan amal yang disukai oleh Allah).

Nurani ini jugalah yang menjauhkan manusia dari perbuatan buruk dan menunjukkan jalan yang benar

Salah satu aspek terpenting dari nurani ini adalah bahwa dia menolong manusia untuk mendapatkan kebenaran dengan kehendak atau kemauannya sendiri.

Nurani akan menun-jukkan kepada manusia apa yang benar, bahkan jika tak ada orang lain yang mau mengarahkannya. Meski demikian, yang penting bagi manusia adalah menjadikan nuraninya sebagai peman-du, mendengar apa yang dibisikkannya, dan berbuat sesuai dengannya. Karena alasan inilah, kita dapat mengatakan bahwa nurani adalah komponen utama dalam agama.

Penting bagi manusia adalah menjadikan nuraninya sebagai peman-du, mendengar apa yang dibisikkannya, dan berbuat sesuai dengannya. Karena alasan inilah, kita dapat mengatakan bahwa nurani adalah komponen utama dalam agama.

Di atas semua itu, ada satu hal pokok yang harus dicamkan baik-baik; setiap manusia, mulai saat akil balig, bertanggung jawab atas apa yang diilhamkan Allah kepadanya dan apa yang dibisikkan oleh nuraninya.

Sejak saat itu dia mulai bisa berpikir mengenai kejadian-kejadian di sekelilingnya dan memiliki ke-mampuan untuk melakukan penilaian bagi dirinya, dia sudah dianggap memiliki dan mampu menerapkan kemampuan mendengar dan membedakan suara yang muncul dari hati nuraninya, dan memiliki kemauan untuk mengikutinya.

Mulai dari titik ini ke depan, dia akan ditanyai tentang perbuatan-perbuat-an yang dikerjakan selama hidupnya. Jika dia mau mendengar nuraninya, dia akan menda-pat pahala kehidupan yang kekal di surga Allah, namun jika dia mengikuti nafsunya, dia akan menemui kurungan tertutup api neraka yang abadi.

@ Kesampingkan bisikan nafsu, Ikuti Hati Nurani mu .....

____salam ___


by @ Kyai Jamas
Baca Selengkapnya; Seratan selajengipun »»  

Kamis, 18 Juli 2013

Bahasa Arab Dasar 2 ( Alharf )


Semua bahasa manusia tersusun dari tiga komponen dasar yaitu:

1. Satuan bunyi yang disebut "huruf" atau "abjad".

Contoh: م - س - ج - د

2. Susunan huruf yang memiliki arti tertentu yang disebut "kata" ( dlm bhs arab di sebut kalimat ).

Contoh: مَسْجِدٌ (= masjid)

3. Rangkaian kata yang mengandung pikiran yang lengkap disebut "kalam '' ( dlm bhs indonesia di sebut kalimat ).

Contoh: أُصَلِّيْ فِي الْمَسْجِدِ (= saya shalat di masjid)

-----------------

Update by@ Kyai Jamas
Pengasuh Kajian ini : Yai Naufal Kareem Muqtadaa

@ Bersambung ke Dasar 3
Baca Selengkapnya; Seratan selajengipun »»  

Sabtu, 13 Juli 2013

Bahasa Arab Dasar 1( Pembagian Cbg ilmu bahasa arab )


Tidak perlu diragukan lagi, memang sepantasnya seorang muslim mencintai bahasa Arab dan berusaha menguasainya. Allah telah menjadikan bahasa Arab sebagai bahasa Al-Qur’an karena bahasa Arab adalah bahasa yang terbaik yang pernah ada sebagaimana firman Allah ta’ala:
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ

“Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al Quran dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya.”

Ibnu katsir berkata ketika menafsirkan surat Yusuf ayat 2 di atas: “Yang demikian itu (bahwa Al -Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab) karena bahasa Arab adalah bahasa yang paling fasih, jelas, luas, dan maknanya lebih mengena lagi cocok untuk jiwa manusia.

Oleh karena itu kitab yang paling mulia (yaitu Al-Qur’an) diturunkan kepada rosul yang paling mulia (yaitu: Rosulullah), dengan bahasa yang termulia (yaitu Bahasa Arab), melalui perantara malaikat yang paling mulia (yaitu malaikat Jibril), ditambah kitab inipun diturunkan pada dataran yang paling mulia diatas muka bumi (yaitu tanah Arab), serta awal turunnya pun pada bulan yang paling mulia (yaitu Romadhan), sehingga Al-Qur an menjadi sempurna dari segala sisi.” (Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir surat Yusuf).

@ MARI BELAJAR BAHASA ARAB BERSAMA KAMI.
Baca Selengkapnya; Seratan selajengipun »»  

Jumat, 01 Maret 2013

PENGERTIAN DASAR TENTANG 'IBADAH

Secara etimologis, kata ibadah merupakan bentuk mashdar dari kata kata abada yang tersusun dari huruf ‘ain, ba, dan dal. Arti dari kata tersebut mempunyai dua makna pokok yang kelihatan bertentangan atau bertolak belakang. Pertama, mengandung pengertian lin wa zull yakni ; kelemahan dan kerendahan. Kedua mengandung pengertian syiddat wa qilazh yakni; kekerasan dan kekasaran.
H. Abd. Muin Salim menjelaskan bahwa, dari makna pertama diperoleh kata ‘abd yang bermakna mamluk (yang dimiliki) dan mempunyai bentuk jamak ‘abid dan ‘ibad. Bentuk pertama menunjukkan makna budak-budak dan yang kedua untuk makna “hamba-hamba Tuhan”. Dari makna terakhir inilah bersumber kata abada, ya’budu,’ibadatan yang secara leksikal bermakna “tunduk merendahkan, dan menghinakan diri kepada dan di hadapan Allah. 
Dalam bukunya Jalan Lurus Menuju Hati Sejahtera dijelaskan, bahwa kata ibadah mengandung ke-mujmal-an dan kemudahan. Ayat-ayat al-Quran yang menggunakan kata ‘abd (عبد) dan yang serupa dan dekat maknanya adalah seperti khada’ (tunduk merendahkan diri); khasya’a (khusyuk); atha’a (mentaati), dan zal (menghinakan diri).
Sejalan dengan pengertian tersebut, T.M. Hasbi Ash-Shiddieqy juga menjelaskan bahwa ibadah dari segi bahasa adalah “taat, menurut, mengikut, tunduk, dan doa”.
Menurut istilah, tidak disepakati tentang pengertian ibadah. Dengan demikian, ibadah secara terminologis ditemukan dalam ungkapan yang berbeda-beda. TM. Hasbi Ash-Shiddieqy dalam mengutip beberapa pendapat, ditemukan pengertian ibadah yang beragam, misalnya ; perspektif ulama tauhid mengartikan ibadah dengan :
توحيد الله وتعظيمه غاية التعظيم مع التذلل والخضوع له
Meng-Esakan Allah, menta’zhimkan-Nya dengan sepenuh-sepenuhnya ta’zhim, serta menghinakan diri kita dan menundukkan jiwa kepada-Nya (menyembah Allah sendiri-Nya.
Perspektif ulama akhlak mengartikan ibadah dengan :
العمل بالطاعة البدنية والقيام بالشرائع
Mengerjakan segala tha’at badaniyah dan menyelenggaran segala syariat (hukum).
Perspektif ulama tasawuf mengartikan ibadah dengan :
فعل المكلف على خلاف هوى نفسه تعظيما لربه
Seorang mukallaf mengerjakan sesuatu yang berlawanan dengan ke-inginan nafsunya untuk membesarkan Tuhannya.
Perspektif ulama fikih mengartikan ibadah dengan :
ما أديت ابتغاء لوجه الله وطلبا لثوبه فى الآخرة
Segala taat yang dikerjakan untuk mencapai keridhaan Allah dan meng-harap pahala-Nya di akhirat.
M. Quraish Shihab, menyatakan, ibadah adalah suatu bentuk ketundukan dan ketaatan yang mencapai puncaknya sebagai dampak dari rasa pengagungan yang bersemai dalam lubuk hati seseorang terhadap siapa yang kepadanya ia tunduk. Rasa itu lahir akibat adanya keyakinan dalam diri yang beribadah bahwa obyek yang kepadanya ditujukan ibadah itu memiliki kekuasaan yang tidak dapat terjangkau hakikatnya.
Pengertian-pengertian ibadah dalam ungkapan yang berbeda-beda sebagaimana yang telah dikutip, pada dasarnya memiliki kesamaan esensial, yakni masing-masing bermuara pada pengabdian seorang hamba kepada Allah swt, dengan cara mengagungkan-Nya, taat kepada-Nya, tunduk kepada-Nya, dan cinta yang sempurna kepada-Nya.
Referensi Makalah®
Kepustakaan:
Abu Husain Ahmad Ibn Faris Ibn Zakariyah, Mu’jam Maqayis al-Lugah, juz IV (Beirut: Dar al-Fikr, t.th). H. Abd. Muin Salim, Fiqh Siyasah; Konsepsi Kekuasaan Politik dalam Al-Quran (Cet. I; Jakarta: RajaGrafindo Persada, 1994). H. Abd. Muin Salim, Jalan Lurus Menuju Hati Sejahtera; Tafsir Surah al-Fatihah (Cet. I; Jakarta: Yayasan Kalimah, 1999). T.M. Hasbi Ash-Shiddieqy, Kuliah Ibadah; Ibadah Ditinjau dari Segi Hukum dan Hikmah (Cet. VII; Jakarta: Bulan Bintang, 1991). M. Quraish Shihab, Fatwa-fatwa Seputar Ibadah Mahdah (Cet. I; Bandung: Mizan, 1999). Muhammad Fu’ad ‘Abd. al-Baqy, al-Mu’jam al-Mufahras li Alfazh al-Quran al-Karim (Bairut: Dar al-Fikr, 1992). Muhammad Rasyid Ridha, Tafsir al-Quran al-Hakim al-Musamma Tafsir al-Manar, juz I(Mesir: Maktabah al-Qahirat, 1988). Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya (Jakarta: Proyek Pengadaan Kitab Suci al-Qur’an, 1992).
Baca Selengkapnya; Seratan selajengipun »»